Jape Methe

Apurie's Blog
Showing posts with label No Smoking. Show all posts
Showing posts with label No Smoking. Show all posts
Rokok Membunuhmu, sebuah kalimat yang hadir mengiringi iklan atau pun yang disematkan di setiap kemasan rokok. Lebih berani dan lebih tegas daripada Peringatan pemerintah : merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.

Secara perlahan rokok dapat membunuh kesehatan, tak hanya bagi perokok aktif, perokok pasif pun ikut terkena dampak dari rokok. Kamu rela istrimu yang sedang hamil terpapar asap rokokmu? Kamu rela anakmu yang masih kecil mengisap asap rokokmu? Jika iya, kamu egois!

nosmoking


smoke poster piccolo

#katanya merokok itu merugikan kesehatan, tapi lebih banyak yang tak memedulikan kesehatannya.

#katanya merokok itu gaya hidup, tapi ya cuma buat bergaya biar dibilang keren.
#katanya merokok itu keren, tapi buang abu dan puntung rokok sembarangan. Keren!

#katanya ga punya uang buat makan, tapi selalu ada uang buat rokok.
#katanya rokok semakin mahal, tapi tetap aja sanggup beli.

#katanya lebih baik puasa makan sehari, daripada ga ngerokok sebatang.



Suatu waktu,
"Mas, rokok?" sambil menyodorkan sebungkus rokok yang telah dibuka
"Engga, terima kasih"
"Mau ke mana mas?"
"Ke terminal.."
(dan obrolan pun berlanjut..)


Lain waktu,
"Mas, bisa pinjam koreknya?"
"Oh..ga merokok mas"
(dan obrolan pun terhenti)

Suatu hari,
"Nih buat kamu", sambil menyodorkan beberapa lembar uang.
"Apaan nih?"
"Buat beli rokok!"
"Oh.., makasih ya"
(tidak menolak meski bukan untuk beli rokok)

Di sore hari,
"Nak, berheti dulu main bolanya"
"Kenapa, Pak?"
"Beliin Bapak rokok di warung sebelah"
"Duitnya mana, Pak?"
"Minta sama Ibumu"
(sang Bapak mengajarkan langkah-langkah merokok)

Di lain hari,
"Prie, bagi duitnya donk!"
"Hah? Buat apaan?"
"Sepuluh ribu aja, buat beli rokok"
"Wah, lagi ga ada"
(bukan pelit, gak rela aja duitnya buat beli rokok. Mending kalo buat beli makan)

Bicara soal rokok sepertinya tak mudah menemukan ujungnya. Meskipun sempat menimbulkan kontroversi soal fatwa haram, toh juga gak ngaruh bagi perokok aktif hingga saat ini.
Mengisap racun (baca : merokok) itu pilihan, hak setiap orang. Saya sebagai non-perokok ga bisa memaksa orang lain untuk tidak merokok, cuma yang saya harapkan adalah mereka menjadi PEROKOK CERDAS.

Perokok cerdas? Apa itu? Ya..setidaknya tahu waktu dan tempat kapan boleh merokok. Tidak merokok sembarangan, tetap menghargai non-perokok, tidak membuang abu dan puntung rokok sembarangan.

Ketika banyak orang yang ingin berhenti merokok, kenapa saya harus memulai?
‘Uang Rokok’ untuk Isap Asap          
Pro dan Kontra soal rokok haram belum berakhir dan seolah tak berujung. Ya, benda sepanjang sembilan senti itu ternyata punya cerita panjang, bahkan tembakau pernah menjadi mata uang tak resmi. 


Kini, rokok seolah menjadi alternatif pembiayaan. Kita lihat saja Sampoerna yang memberikan beasiswa, Djarum Super yang menjadi sponsor utama penyelenggaraan Indonesia Super League hingga penyelenggaraan pentas musik grup papan atas yang tak pernah lepas dari sponsor rokok. Iklan rokok di televisi, koran, majalah atau bilboard seolah dengan mudahnya mendapatkan positioning dari konsumen dengan jargon-jargonnya seperti Pria Punya Selera, Pria Pemberani, Enjoy Aja atau Nggak Ada Lo Nggak Rame.

Banyak orang bilang industri rokok menyumbang pajak yang besar untuk negara, serta 'sumbangan' lain dari rokok untuk pengangguran atau yang lain di negeri ini. Hal seperti inilah yang menggiring kita untuk mau mengucapkan ''thank you for smoking''.


Rokok bisa menjadi alat yang paling ampuh untuk menciptakan sebuah persahabatan. Diawali dari minta rokok atau sekedar 'pinjam' api, obrolan ringan bisa tercipta. Sebutan ''uang rokok'' mewakili simbol persahabatan untuk membahasakan uang suap atau uang tanda terima kasih. Namun justru karena rokok terciptanya jarak antara perokok aktif dan perokok pasif. Soal hak masing-masing kubu pernah saya utarakan di sini. Intinya lo enak, gue juga enak. Jangan hanya lo yang enak, gue yang isap asap. Lo punya hak untuk merokok tapi jangan kesampingkan hak gue menikmati udara tanpa asap rokok. 

(memperingati World No Tobacco Day, May 31st, 2010, | Ketika para perokok aktif di luar sana mengeluh dan berjuang untuk berhenti merokok, alhamdulillah sampai sekarang saya tidak berminat dengan racun tersebut)

Tak banyak yang tahu ada apa di hari ini 31 Mei 2009, seperti tahun sebelumnya saya berbagi artikel kampanye kesehatan untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Apa yang bisa dilakukan di hari ini? Bagi saya, saya hanya bisa posting artikel ini dan meng-upload banner di header blog ini. Sekedar mengingatkan diri sendiri untuk tidak tergoda dengan barang yang sempat menjadi perdebatan karena fatwa rokok haram.

Bagi saya adalah sebuah tantangan untuk berpegang pada prinsip untuk tidak merokok di tengah kepulan asap yang akan menjadikan saya menjadi perokok pasif. Saya tidak pernah melarang mereka untuk merokok, yang saya minta adalah jadilah PEROKOK CERDAS dengan tidak merokok di sembarang tempat, tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tetap menghargai hak-hak mereka yang tetap ingin menikmati udara bersih.

(images taken from official brochure WHO)
Baca juga ;
Kabar bahwa ada rencana untuk mengharamkan rokok ternyata menimbulkan reaksi dari berbagai pihak. Di sisi perokok tentu ini adalah wacana yang aneh karena di balik pelabelan haram untuk rokok tentu akan menimbulkan dampak yang luas. Bagi non perokok tentu ini membawa angin segar untuk menolak yang namanya rokok.
Bagi saya pribadi tak terlalu ambil pusing dengan hal ini. Setahu saya rokok itu hukumnya makruh yang artinya kalo melaksanakan ya tak masalah dan kalau tidak melaksanakan malah dapat pahala.

Nah, rokok akan menjadi haram ketika sang perokok menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan sebatang rokok. Atau penghasilan sehari-hari pas-pasan apalagi bila dibelanjakan untuk rokok. Untuk hal yang ini saya setuju, soalnya bila kita lihat tidak sedikit para perokok yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sungguh ironis bukan?
“Makanya prie, mending ngrokok aja”
“ah..kagak pake”
“daripada jadi perokok pasif lebih bahaya kan?”
“eh tapi menurutku malah lebih bahaya perokok aktif loh”
“ah, mana ada justru yang pasif itu malah bahaya menghirup asap rokok”
“iya, tapi kalo perkokok aktif itu lebih bahaya karena dia juga jadi perokok pasif”
“????”
“dia udah jadi perokok aktif, trus dia ikut hisap juga tuh asapnya. Nah, In My Humble Opinion dia juga jadi perokok pasif. Begono maksudnya...”
“ah..itu sih bisa-bisanya kamu aja prie!”
“he..he..”
Siapa yang gak tau rokok? Sekalipun banyak yang tahu benda ini beracun, toh masih saja dengan santai dikonsumsi. Yang lebih parah, tak jarang si perokok ‘merampas’ hak kenyamanan orang lain.
Ya, saya ulangi MERAMPAS!!
Seorang perokok akan memandang orang-orang di sekitarnya sombong dan tidak memiliki toleransi padanya karena merokok. Padahal, yang terjadi adalah sebaliknya. Seorang perokok yang tetap merokok di tengah kerumunan orang yang tidak merokok itulah justru yang merupakan orang sombong dan tidak toleran. Orang-orang di sekitar perokok berhak untuk mendapatkan udara yang bersih dan sehat. Mereka sangat tidak pantas untuk mendapatkan resiko-resiko yang diakibatkan oleh rokok karena mereka sama sekali tidak merokok.

Bagaimana tidak, tidak jarang lagi santai tiba-tiba dengan enaknya ada orang tanpa perasaan berdosa duduk di dekatku sambil sebal-sebul dengan asap rokoknya mengatasnamakan hak! Mending kalo permisi dulu!!
Silakan kalo mau merokok, toh itu pilihan hidup mereka, hak mereka tapi mbok ya hargai juga hak kita-kita yang memilih menghirup udara bersih bukan asap rokok yang malah menjadikan non-perokok jadi perokok pasif.
Perhatikan, berapa kali Anda melihat seorang cewek merokok? Sekali lagi CEWEK!! Cewek secantik apapun, seseksi apapun tapi dia merokok, hohoho..maaf saja respect saya terhadap tuh cewek saat itu mendadak berubah. Oke, silakan kalau mau berbicara tentang emansipasi, tapi mbok ya mikir kesehatan kandungan, kesehatan rahim, de es be.
Anak remajapun makin kreatif curi-curi kesempatan coba-coba merokok di kantin belakang atau di luar pagar sekolah. He…sebagai seorang yang pernah muda (deuh baru nyadar kalo dah tua) saya pun pernah coba-coba menghisap yang namanya rokok. Sekali dua kali menghisap rokok, cuma batuk dan hambar yang datang. Kali ketiga batuk tetap mengiringi hisapanku, tapi tak membuatku ketagihan.
Beruntung, saya tak tergoda lebih jauh dengan yang namanya rokok. Bukan tanpa sebab, waktu itu secara tak sengaja saya menemukan sebuah majalah bernama Intisari yang di dalamnya terdapat artikel tentang dunia rokok. Merasa tertarik, saya pun membacanya berulang-ulang. Dari situlah saya punya 'alasan' untuk menolak yang namanya rokok.

Tak perlu pusing pro-kontra tentang hukum rokok, wong saya gak merokok apapun hukumnya tetep aman. Tak perlu pusing cari korek pas mau merokok. Tak perlu pusing menyisihkan uang jajan untuk rokok, mending buat beli pulsa.

Pernah baca dari internet, 7 dari 10 orang perokok aktif ingin berhenti merokok. Jadi kenapa harus memulainya? Biarin aja mereka beranggapan gak jantan kalau gak merokok, gak keren kalau gak merokok. Sekali lagi itu pilihan mereka, saya pun punya pilihan untuk tidak merokok. Mereka punya hak merokok, saya pun punya hak yang sama untuk mendapatkan udara bersih tanpa asap rokok.

Tak perlu mikirin nasib para karyawan pabrik rokok bila gak ada yang merokok, tak perlu mikirin pajak negara yang berkurang gara-gara jumlah perokok menurun, tak perlu pula pusing mikirin nasib para pembuat iklan rokok bila jumlah perusahaan rokok mulai sedikit, yang penting mulai dari diri sendiri! Lagi pula sepertinya itu tak mungkin terjadi mengingat jumlah perokok yang kian meningkat, termasuk perokok pemula yang berada di usia dini.
Sekedar mengingatkan tentang rokok di hari anti tembakau sedunia, hayuuk atuh kang mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil dan mulai dari sekarang.

Tentang rokok, silakah kunjungi :
  1. Stop Merokok
  2. Berhenti Merokok
  3. Kampanye Anti Rokok
  4. WHO, World No Tobacco Day
  5. Indonesian Tobacco Control Network
(end)
Previous PostOlder Posts Home