Jape Methe

Apurie's Blog
Showing posts with label Wisata Jogja. Show all posts
Showing posts with label Wisata Jogja. Show all posts

Mendengar kata museum mungkin kita akan langsung mengasosiasikannya dengan sejarah, kuno, unik, sepi, atau membosankan. Tapi bagaimana bila museum hadir di dalam pusat perbelanjaan?

Affandi Alive

Berwisata ke museum pada dasarnya akan membuka lembaran-lembaran cerita lampau tentang perjuangan atau asal-usul. Benda bersejarah dan benda seni menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cerita lampau sebagai bukti autentik untuk generasi terkini. 

Monumen Yogya Kembali atau biasa disingkat dan disebut dengan Monjali merupakan monumen yang berisi sejarah perjuangan tentara Yogyakarta melawan Belanda, khususnya perang gerilya merebut kembali kota Yogyakarta selama enam jam pada tanggal 1 Maret 1949 yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. 

Monjali
Monumen Yogya Kembali
Yogyakarta as known as Jogja tak melulu soal Malioboro atau pantai Parangtritis. Banyak alternatif wisata yang bisa dikunjungi bila berkunjung ke Kota Gudeg ini diantaranya wisata alam di Kaliurang, wisata kerajinan di Kasongan dan masih banyak lagi.

Untuk wisata sejarah, Candi Prambanan bisa menjadi alternatif tempat wisata di Jogja bagian Timur. Terletak di perbatasan DIY - Jawa Tengah, candi ini merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara.
Mode transportasi kereta api Prambanan Ekspres (Prameks) ini mengingatkanku dengan LRT RapidKL meskipun keduanya tidak sepadan untuk dibandingkan. Hingga saat ini saya lebih nyaman menggunakan mode transportasi jenis ini untuk perjalanan ke Solo daripada menggunakan bus atau kendaraan pribadi.

Pramex
Selain karena alasan bisa lebih santai di beberapa waktu yang tidak sibuk, penumpang kereta bisa menikmati pemandangan gunung di sebelah Utara dan hamparan sawah di sisi kanan dan kiri kereta dengan ditemani bunyi yang khas dari roda kereta api.
Prameks melayani stasiun antar kota jarak dekat salah satunya kota Jogja - Solo PP,  berawal dari stasiun Kutoarjo  dan berakhir di stasiun Jebres. Dengan harga ekonomis, Prameks menjadi pilihan transportasi yang lebih murah dan lebih cepat. Untuk Prameks jurusan Stasiun Tugu - Solo Balapan dikenakan biaya Rp 10.000 dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. 

Bicara soal pantai di Jogja terdapat beberapa nama seperti Parangtritis, Parangkusumo, Samas, Baron, Krakal, Kukup dan beberapa nama lainnya. Di antara nama-nama tersebut Parangtritis menjadi tujuan wisata pantai yang terkenal dengan ombaknya yang besar. ‘Paris’ Yogyakarta menawarkan pemandangan laut yang indah serta kenikmatan menyusuri pantai dengan menunggang kuda.

Parangtritis punya nama beken ‘Paris’ karena kemudahan pengucapannya, meski tak ada hubungannya sama sekali dengan kota Paris, Perancis.
paris van jogja

Tips berwisata ke Parangtritis
1. Pilih waktu berkunjung sore hari untuk menghindari panas terik sinar matahari. Sinar matahari pada sore hari cenderung lebih bersahabat daripada siang hari. Bila perlu gunakan pelindung seperti topi, kacamata hitam atau krim sunblock.

2. Lebih nyaman bila mengenakan sandal daripada sepatu karena lebih leluasa berjalan di pasir atau pinggir pantai.

3. Disarankan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna HIJAU . Warna ini merupakan warna favorit Ratu Pantai Selatan, masyarakat sekitar meyakini bila pengunjung mengenakan pakaian warna hijau akan ‘diambil’ oleh Ratu Pantai Selatan.

4. Pihak pengelola melarang pengunjung untuk berenang di pantai karena ombaknya yang besar. Namun bila ingin bermain dengan ombak, perhatikan posisi anda. jangan terlalu jauh dengan bibir pantai. Pada waktu tertentu ombak yang lebih besar akan datang tiba-tiba dan membuat anda lebih jauh dari bibir pantai.

5. Jangan tinggalkan jejak negatif atas sampah-sampah makanan anda.

6. Jangan lewatkan pesona sunset menjelang petang. it’s so beautiful. Jangan lupa bawa kamera ya..!!!
Sebuah monument yang telah menjadi landmark kota Jogja. Bangunan yang berada di persimpangan Jl. Diponegoro, Jl. AM. Sangaji, Jl. Jend. Sudirman dan Jl. P. Mangkubumi itu menjadi salah satu poros imajiner pihak Keraton Yogyakarta. Jika ditarik garis lurus dari Selatan ke Utara maka akan ditemukan garis lurus Laut Kidul, Keraton, Tugu dan Gunung Merapi.
Bentuk Tugu sekarang berbeda dengan bentuk bangunan yang dulu. Bangunan ini telah mengalami beberapa kali perubahan terutama saat gempa menguncang Yogyakarta pada tahun 1867.



(Foto diambil saat Jogja menjelang pagi sekitar pukul 04.50 WIB – meta tag 05.50 WITA - saat kondisi jalan belum ramai oleh kendaraan sehingga memungkinkan untuk meng-explore bangunan itu)
Bulan Juni waktunya liburan sekolah. Bagi yang berancana berlibur ke Jogja bersama keluarga tercinta tentu tak berkesan bila tidak mampir ke Malioboro.
Di pedagang kali lima sepanjang jalan Malioboro adalah tempat untuk mendapatkan oleh-oleh khas Jogja dengan harga terjangkau. Tapi jangan salah, bila tidak teliti Anda bisa mendapatkan barang dengan harga 3 kali lipat lebih mahal. Tertarik belanja di pedagang kali lima sepanjang 1 kilometer itu? Yang punya blog ini punya tips.
  1. Nasionalisme
    Boleh percaya boleh tidak, berkomunikasi dengan bahasa Jawa dengan penjual akan lebih mempermudah kita mendapatkan harga yang miring. Pengalaman saya dengan seorang penjual muda (udah muda, cantik, murah senyum lagi, pokoke bening dah!), harga yang dia pertahankan akhirnya 'luntur' setelah saya mengucapkan kalimat sakti
"gak bisa kurang mba?"
"itu sudah pas mas, monggo kalau mau dikurangin dikit harganya"
"tetep mba saya tawar segitu"
"wah gak bisa mas, tambahin 2 ribu aja"
"wah mba e iki, jape methe koq!"
"oh jape methe to? Yo wis monggo"
(jape methe dalam bahasa walikan Jogja berarti cahe dhewe atau temen sendiri sesam orang Jogja. Jangan gunakan cara ini bila pedagang terlihat sudah berumur agar tidak mengurangi rasa sopan kepada orang tua)

Kapan ke Jogja lagi?
Jogja sudah berubah lho
Merapi sekarang lebih kalem,
Kalau ketemu pasti kesengsem

Kapan ke Jogja lagi?
Sudah banyak yang berubah lho.
Mbaknya makin manis, Jogja juga tambah mbois.
Bakalan kaget deh, kalo ntar ketemu.

Begitulah kalimat yang saya ambil dari sebuah banner yang saya lihat di situs resmi Dagadu.
Jogja memang berubah, setidaknya sedikit perubahan. Bila Anda tak berkunjung ke Jogja dalam setahun ini pasti akan pangling. Dalam hal transportasi, Jogja punya perubahan.
Trans Jogja, begitu sebutan untuk moda transportasi baru yang mengadopsi sistem seperti busway. Bedanya dengan busway Jakarta, Trans Jogja tidak menggunakan jalur khusus serta tanpa bus feeder.
Terdapat beberapa jalur yang tersedia, bila ingin pindah jalur tak perlu mengeluarkan ongkos single trip sebesar Rp.3.000 lagi karena Anda tinggal transit ke jalur lain dengan memberikan informasi tujuan akhir kepada pramugari/pramugara yang sedang bertugas. Untuk dapat menggunakan sarana bus berwarna kuning hijau itu, terdapat pilihan pembayaran, yaitu tiket single trip, reguler umum dan reguler pelajar. Untuk informasi tiket lihat di sini.



Sayang, pengalaman pertama saya kurang berkesan. Saat saya akan membayar dengan uang dua puluh ribuan, petugas menolak pembayaran saya dengan dalih tak ada uang kembalian. Memang, di pintu masuk halte terpampang pengumuman 'Rp. 3.000 Harap bayar dengan uang pas'.

Namun, karena benar-benar tak ada uang ribuan maka saya putuskan untuk 'memecah' uang tersebut dengan membelanjakannya. Setelah menyerahkan 3 lembar uang ribuan kepada petugas tiket, saya sempatkan untuk mengintip tempat di mana petugas tadi menyimpan uang. Ternyata, saya ketahui di dalam kotak uang terdapat tumpukan uang lima ribuan dan uang ribuan! Ah, dasar! Kenapa tadi bilang gak ada kembalian?! Sudahlah takmau ambil pusing!
Pada awalnya sarana ini banyak peminatnya. Namun kini tak sedikit bus yang sepi penumpang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena di beberapa jalur jarak antara halte terlalu jauh sehingga menyulitkan calon penumpang untuk sampai ke tempat tujuan dengan mudah. Naik becak atau bus umum menjadi pilihan utama bila tempat tujuan jauh dari halte Trans Jogja. Banyaknya pengguna sepeda motor juga mendukung sepinya sepinya penumpang.
Informasi yang saya dapatkan dari supir taksi saat berangkat ke bandara Adisucipto, bus dengan warna body kuning hijau ini pernah mengalami kerugian Rp.5 juta per hari! Wah, kalau begini terus lama-lama gulung tikar.
Terlepas dari persoalan tersebut, monggo ngicipi busway-nya Jogja bila mampir ke Jogja.
Gak tau info rutenya? Silakan lihat mekanismenya di sini
atau lihat peta rute di sini.
foto-foto diambil dari sini
(end)
Previous PostOlder Posts Home