| Banner PON XVII yang pernah nongkrong di header blog ini |
Do you know what PORCANAS is? Saya jamin ga banyak yang tahu tentang PORCANAS. PORCANAS adalah perhelatan olahraga nasional setingkat PON untuk para penyandang cacat. Dengan kata lain PORCANAS adalah PON-nya penyandang cacat.
Gemerlap gempita pelaksanaan PON XVII di Kaltim beberapa waktu yang lalu ternyata tak menular ke pelaksanaan PORCANAS XIII di Kaltim. Di pembukaan hari Sabtu (2/8) lalu saja sepi pengunjung. Beberapa pejabat menteri nasional yang sedianya akan meresmikan pembukaan PORCANAS XIII batal hadir karena suatu alasan. Semoga saja, ketidakhadiran pejabat menteri bukan karena memandang PORCANAS sebagai ajang olahraga nasional tingkat rendah.
Sekalipun memiliki beberapa kekurangan fisik, tak mengurungkan semangat para atlet. Bahkan di cabang paling bergengsi sepakbola beberapa waktu yang lalu sempat diwarnai dengan insiden kericuhan! Nah, gak kebayang
PORCANAS XIII 2008 resmi ditutup hari Jumat (8/8) kemarin tanpa meninggalkan sebuah kesan seperti yang didapatkan saat pelaksanaan PON XVII lalu. Selain hampir tanpa promosi, jadwal pelaksanaannya pun digadang-gadang sebagai biang keladi anti-klimaks ini.
Nah, di PORCANAS XIV berikutnya tahun 2012 di Riau ada wacana pelaksanaannya akan dimajukan sebelum pelaksanaan PON XIV 2012 Riau. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat mendapatkan informasi tentang PORCANAS dan itung-itung sebagai pemanasan keramaian PON.
I think that was brilliant idea. Wasn’t it? Saya pun setuju dengan langkah ini karena sedikit akan mengangkat gengsi PORCANAS itu sendiri. Walaupun mereka memiliki kekurangan, tetapi mereka mempunyai hak yang sama dengan atlet PON. Betul?
Di postingan sebelumnya
saya memajang beberapa foto-foto yang saya ambil saat PON XVII Juli lalu. Satu
di antaranya memikat juri Lomba Foto UPP PON XVII. Saya pun tertawa. Tertawa bukan karena hasil
imajinasi tanggung itu terpampang di koran pertama dan terbesar se-Kaltim,
melainkan heran foto
biasa ternyata memikat dewan juri untuk memberikan tempat di tempat ketiga
untuk kategori umum. Ga salah tuh juri??
“Foto yang diikutkan merupakan
karya yang diambil ketika pembukaan dan penutupan PON. Objek yang difoto adalah
khusus pelaksanaan upacara pembukaan dan penutupan PON di antaranya peragaan
gerak tari, pertunjukan musik, ekspresi penonton, kembang api, ekspresi panitia
dan semua kejadian saat UPP. Dalam penilaiannya, ada empat aspek yang dinilai.
Yakni ide/orisinalitas, komposisi, teknik dan kualitas.” (Kaltim Post 25 dan 29
Juli 2008)
Beberapa rekan
yang saya tantang untuk menebak foto
yang berani memberikan jawaban yang pasti. Hanya komennya
Dhimas yang sedikit ‘nyenggol’.
Hal ini memperkuat rasa heranku atas foto
tersebut yang berhasil memikat dewan juri itu. Secara, jepretnya iseng ga ada
niatan buat ikut lomba dan kirim e-mail ke panitia lomba pun hanya berselang 6 jam sebelum batas waktu pengiriman ditutup. Dasarnya emang rejeki gak ke
mana toh!!
Sekalipun hanya
iseng belaka hasil jepretan ini bukannya tanpa konsep. Dengan
kondisi stadion yang gelap menyisakan lampu sorot yang menyinari keenam petugas
penurunan bendera PON tentu saja hanya satu yang memungkinkan. Siluet. Dengan modal dengkul kaki yang saya
manfaatkan sebagai tripod, shutter kamera kupencet untuk membekukan
ekspresi beberapa penonton yang mencoba melihat jauh ke bawah
melihat jauh ke bawah. Tema PON pun terlihat jelas saat tulisan dan maskot PON
XVII di giant screen terekam dalam
lensa.
Maaf, ini hanya
pandangan dari seorang berimajinasi tanggung.
give me your review!
Masih heran juga kenapa foto seperti ini memikat juri? Eits, tunggu
dulu!
tak tertulis dalam setiap perlombaan. Keputusan juri tidak dapat diganggu
gugat!!!!
Hahahahaahahaha..*ketawa setan*
Title :
Tak Terlihat
Equipment Make :
SONY
Camera Model :
DSC-S650
Flash Mode :
None
Focal Length :
6 mm
F-Number :
F/2.8
Shutter : 1/8 sec
ISO Speed :
ISO-320
Date Picture Taken :
7/17/2008 8:20 PM
(Dari pengalaman ini setidaknya saya bisa
belajar satu hal. Untuk mendapatkan foto yang baik tak ada salahnya menggunakan
kamera yang baik pula. Tapi yang paling penting adalah konsep imajinasi yang didukung oleh kemampuan
dasar ‘megang’ kamera, sekalipun hanya menggunakan kamera saku)
Cerita tentang PON XVII kemarin belum sepenuhnya habis. Setelah sukses menggelar even olahraga 4 tahunan itu, Kaltim akan menjadi tuan rumah Porcanas XIII Agustus mendatang. Setelah itu, Kaltim membidik menjadi salah satu tuan rumah SEA Games XXVI-2011 mendatang.
Cerita kali ini bukan tentang Pekan Olahraga Penyandang Cacat Nasional (Porcanas)
1 | GIA | 2 | Club Air Mineral | 3 | Pertamina |
4 | Indah dan Megah | 5 | Communication | 6 | The Knees |
7 | Bukan Terminal | 8 | Senja di Sempaja | 9 | Pusamania Beraksi |
10 | Ujung Harapan | 11 | Tak Terlihat | 12 | The Stadium |
13 | Light of Victory | 14 | Menghias Angkasa | 15 | Membiru |
Gara-gara keisengan saya ini, saya ketiban berkah PON. Salah satu dari foto-foto di atas ternyata memikat juri dalam Lomba Foto UPP PON XVII yang diadakan oleh Kaltim Pos. Nah, coba tebak foto yang mana?
PON XVII telah berakhir dan mencatatkan sejarah
baru dalam olahraga nasional. Berbagai permasalahan sempat menghadang. Mulai
dari logo PON (yang sempat dikomplain oleh komite olimpiade berkenaan dengan
jumlah dan warna cincin di logo resmi), prasarana dan berbagai permasalahannya.
Sempat terancam mundur dari jadwal yang ada,
program Trisukses (sukses prestasi, sukses penyelenggaraan dan sukses
pemberdayaan ekonomi rakyat) pun berhasil diraih. Dari segi prestasi, target 5
besar pun terlewati dengan raihan posisi ketiga di bawah juara umum Jatim dan DKI Jakarta yang secara mengejutkan menyalip di hari terakhir.
Sederet prestasi yang diraih seyogyanya dapat
dipertahankan. tercatat 176 rekor lama terpecahkan yang berasal dari 10 cabang olahraga. 58 rekor nasional, 115 rekor PON, 2 rekor SEA Games dan 1 rekor Asian Games. Selain sederet prestasi, PON kali ini meninggalkan permasalahan, di antaranya adalah indikasi kasus suap wasit di cabor loncat indah. Sebanyak 14 juri dan wasit akan diperiksa. Terlepas dari itu semua, akan lebih lengkap lagi bila sukses penyelenggaraan dapat
memotivasi atlet di level lokal maupun nasional. Prasarana yang telah dibangun
dengan uang rakyat seharusnya dapat dinikmati oleh masyarakat pula.
Stadion Utama Kaltim, Palaran
senilai Rp. 1,1T yang dibangun dengan
rancangan megah mirip stadion
Miyagi, Jepang setelah PON XVII ini diharapkan agar dapat tetap berfungsi. Diharapkan dapat
menjadi simbol kebanggaan nasional layaknya stadion GBK, Jakarta
dan stadion
Jakabaring, Palembang tempat digelar pertandingan terakhir (final) piala
tahun lalu.
Kaltim 5 besar? Lewat wal ai...!!!
(closing ceremony)
(end)
pukul 430pm. Ku ingin segera beranjak untuk menuntaskan hasrat yang terpendam.
Saat tiba masanya, ku
diidam-idamkan. Telah lama kunantikan saat ini sekedar untuk menuntaskan hasrat
yang telah sampai ke ubun-ubun. Angka di
Ordometer bertambah 5 Km, 10 Km, ah jauh juga ternyata. Angka semakin bertambah
di angka 15 Km, 20 Km…sial, ternyata ku salah jalan. Kebablasan sodara-sodara! Bagooss….!!
hingga 60 Kph. Tak lama ku menemukan ‘rumah’ tujuan untuk menuntaskan hasrat
itu. Masih 5 Km lagi untuk sampai
Tak lama dari kejauhan kulihat lampu-lampu dengan benderang menerangi di
sekitar ‘rumah’ megah itu. Akhirnya ku sampai di sini. Stadion Utama
Kaltim, Palaran…!!!!!
kata di media, megah, mewah, luas (bikin capek
euy!!).
salah, stadion ini telah memakan korban! Justru tuan rumah-lah yang menjadi
korbannya. Dengan dukungan penuh dari tuan rumah, kesebelasan Kaltim takluk oleh
permainan cantik Jatim. 2-0!!! Ternyata dukungan semangat saja tidak
cukup. Tak apalah, kalau ada kesempatan besok nonton lagi perebutan medali
perunggu antara Kaltim vs DKI Jaya plus laga puncak Papua vs Jatim. Hidup Jatim!!!! (loohh!!!)
pendukung minoritas kalah suara dengan pendukung Kaltim. Sempat terjadi
keributan kecil setelah gol pertama tercipta hingga pendukung Jatim diminta
keluar!!
mengagumi stadion yang konon katanya menjadi yang terbesar kedua di
tanpa menggunakan tower lampu, untuk
penerangan utama menempel jadi satu dengan atap stadion. Katanya sih ini yang
pertama di
seandainya pas ada acara gini trus mati lampu gimana ya??
soal mati lampu, perasaan selama PON ini malah ga pernah mati lampu di Samarinda. ya?
Bagus aja, asal setelah PON XVII ini berakhir, PLN jangan ‘balas dendam’!!
pengaruh gengsi juga kali ya, masa’ pas lagi acara ada mati lampu. Malu donk ama daerah lain, apa kata dunia?
PON di Stadion Utama Palaran, Samarinda, Sabtu seminggu yang lalu. Dengan berbagai
kendala PON berlangsung meriah di beberapa venues di Samarinda. Meski begitu, beberapa rekan blogger mengaku
masih kurang 'ngeh' dengan pesta olahraga nasional 4 tahunan itu. Ini menjadi
bukti kecil minimnya sponsor untuk skala PON.
terjadi di
justru sebaliknya. Kemeriahan PON di Balikpapan seketika hanyut oleh terjangan banjir
dan angin puting beliung yang terjadi Rabu (9/7). Ribuan rumah dan sejumlah
ruas jalan terendam. Belasan rumah rusak, stadion Persiba rusak parah. Banjir
kali ini juga melumpuhkan layanan telpon, fax, Speedy dan Flexi hingga layanan
ATM di wilayah Samarinda, Bontang, Tarakan dan beberapa
lain di sekitar
Jaringan Telkomsel, Indosat dan XL pun sempat mengalami gangguan. Jaringan
komunikasi kembali normal pada hari Kamis siang.
sumber daya alamnya. Kini, di saat digelar pesta olahraga nasional, yang
semestinya disambut dengan suka cita, duka itu pun datang.
Minggu (06/07) jadwal sepakbola PON mempertemukan Kaltim vs Papua
Barat. Setelah ditahan imbang oleh
pertemuan pertama, kesebelasan Kaltim sukses menggulung Sulteng 4-1 di
pertandingan keuda. Dengan harapan melihat top
perform kesebelasan Kaltim, sore ini saya jadwalkan untuk nonton langsung
di Stadion Madya, Sempaja. Mumpung ada PON, belum tentu 10 atau 20 tahun lagi
ada di Kaltim. Lagian gratis ini...
Di akhir perjalananku dengan Juprie kami disambut
kemacetan dikarenakan parkir bus-bus kontingen berplat N, L dan AA yang dengan
rapinya mengular hingga ke ruko Avenue biliard.
Pertandingan masih sekitar 1 jam lagi. Ah, jalan-jalan dulu ah ke Kaltim Expo. Antusias warga Samarinda
sudah terlihat. Semarak kemeriahan pembukaan PON di Stadion Utama Palaran
semalam tampaknya menjalar ke Stadion Madya, Sempaja.
Sepertinya pertandingan akan dimulai kusegerakan langkah ini menuju
pintu utama, ini kali pertama saya memasuki stadion ini. Gemuruh penonton
sahut-menyahut di tribun utama. Di bagian lain gemuruh tabuhan genderang tak
mau kalah. Riuh gemuruh suporter berasa di Old Trafford (halah hipo banget).
Kulihat di papan skor. Loh kok Jatim vs Sumbar? Nah, Kaltim main di
mana? Ah, salah tempat rupanya, atau salah jadwal? Oh, tidak! Ternyata Kaltim sudah main
di partai pertama sore tadi..
Hiiks..
Rasa nasionalisme tiba-tiba muncul saat ikut berdendang lagu Indonesia
Raya. Oke, terlanjur basah nonton sekalian, biarin aja cuek mo siapa yang maen.
Berhubung saya orang Jogja, ya saya
dukung Jatim aja biar sama-sama wong Jawa.
Jatim sayapun tak tahu. Yang jelas tiap ada tim yang menyerang ke gawang
sayapun ikut teriak. Tapi tim putih terlihat lerlihat lebih dominan, ternyata
tim Jatim.
Ah, sial di sebelahku ada yang
merokok. Apes!.
2 gol mengoyak jala Sumbar, sayang keburu offside. 2 menit masa injury
time, keributan terjadi. Wasit menunjuk titik putih setelah pemain Jatim
dijatuhkan lawan di dalam kotak penalti. Drama kerusuhan hampir terjadi. Pemain
Sumbar merengsek memburu wasit. Satuan keamanan pun segera bertindak. Meski
begitu penalti tetap dilaksanakan. 3 poin yang diraih Jatim memastikan nilai
sempurna di 3 pertandingan dan sekaligus menjadi juara grup disusul Sumbar di
peringkat kedua. Ah, ribut lagi..ribut lagi....gimana mo fair play..??
(beruntung saya memiliki hape ini
sekalipun fisiknya sudah mulai tak menarik lagi. Setidaknya saya bisa menjaga
ide-ide tetap segar. Di manapun, kapanpun saya tetap bisa menulis melalui fitur
Notepad-nya)
(end)
makan di bumi Etam ini sudah sewajarnya bila ikut mendukung hajatan olahraga
nasional 4 tahunan yang digadang-gadang sebagai pesta PON terbesar sepanjang
sejarah nasional itu. Logo resmi PON XVII telah lama saya pajang di blog ini
dengan harapan memberikan live link informasi PON sekaligus promosi
mini. Sungguh tak ada sepeser fee yang masuk ke kantong, tak lain adalah
bentuk simpati terhadap minimnya promosi yang ada.
tiba-tiba saya jadi teringat masa SD dulu saat diberi tugas kelompok untuk
menyusun kliping tentang PON. Repot tapi seru, tiap hari sepulang sekolah
berkutat dengan gunting, lem dan koran Kedaulatan Rakyat sebagai sumber utama)
update: website PON XVII yang lain ada di sini.










