10 July 2007

Apa sih susahnya kasih sein?

Entah apa hal semacam di atas bisa disebut sebagai umpatan atau tidak, tapi yang jelas kalimat itu sering muncul dan ingin kukeluarkan lewat teriakan gara-gara pengendara yang bisa dibilang gak sopan belok tanpa kasih tanda lampu sein (turnlights).
Kalau kendaraan mobil sih hanya beberapa, tapi kalau sepeda motor R2 deuh jengkelnya seolah-olah yang punya jalan ya mereka.
Saya anggap mereka tuh egois gak memikirkan pengendara yang di belakangnya dan cuma mengandalkan bahasa tubuh dan berharap pengendara di belakangnya bisa membaca (lebih tepatnya menebak). Padahal kalau dipikir-pikir
sepertinya gak ada masalah dengannya, lha wong motornya tuh keluaran baru je, mosok sih seinnya dah mati??
Lampu sein diciptakan jelas ada maksud dan tujuannya yaitu kelengkapan sebagai penunjang keselamatan,(walaupun pada era masa kini pabrikan kendaraan bermotor menciptakan disain lampu sein yang futuristik yang menggabungkan keindahan dan fungsionalnya).
Jelas tujuan utamanya adalah sebagai media komunikasi pengendara yang bersangkutan dengan pengendara di sekelilingnya saat akan berbelok atau berpindah jalur.
Banyak pengendara yang tidak memperhatikan
safety riding, tak heran berkendara di jalan raya seolah dikelilingi oleh bahaya.
Kalau saya perhatikan, bukan masalah tua atau muda, Honda Revo ato Honda si Pitung, tapi pada dasarnya mereka tidak menyadari kalau mereka seharusnya butuh untuk kasih sein.

Ya..taat bukan karena takut polisi, taat bukan karena pengen dapet reward tapi taat karena butuh untuk kenyamanan dan keselamatan berkendara.
Coba dipikir-pikir, kalau memang kita butuh sesuatu apapun akan dilakukan untuk mendapatkannya. Bagaimana dengan kenyamanan (di samping keselamatan) berkendara?
Think about it!!



No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya..