31 August 2014

Menggelandang di Negeri Orang

Bagi sebagian traveler (sebagian kecil atau sebagian besar) setuju jika proses lebih menarik daripada hasil, cerita selama menempuh perjalanan biasanya lebih berkesan.

April 2015 April 2014, untuk kesekian kalinya saya berkesempatan menginjakkan kaki di negeri jiran Singapura. Pengalaman pertama kurang berkesan karena cuma numpang lewat, pengalaman kedua cukup menjadi merasa bodoh dengan cerita bodohnya dan untuk ketiga kalinya menciptakan cerita yang lebih seru. Menggelandang! 

Trainveling

Cerita bermula ketika 5 cowok cakep yang sok asik pede untuk melakukan perjalanan Singapura-Kuala Lumpur dengan kereta api tanpa memesan tiket terlebih dahulu. Setelah keliling kota, kami terlambat kembali ke penginapan dan menuju Woodlands MRT Station.

Beberapa perkiraan meleset, perjalanan ke Woodlands dari stasiun Bugis ternyata memakan waktu sekitar 45 menit dari prediksi 20 menit dengan melewati setidaknya 14 stasiun pemberhentian. Jam menunjukkan jam 10.25 dan masih beberapa stasiun pemberhentian lagi. Pun dari Woodlands MRT Station masih dilanjutkan dengan bus ke Stasiun Woodlands.
Jam 11 malam kurang sekian menit, tibalah di stasiun dan disambut antrean penumpang yang menunggu boarding ke kereta.

Loket adalah tujuan kami, dan petugasnya sudah bersiap untuk pulang. Tutup!
Lemas, karena bakalan kehilangan waktu 6-8 jam. Kembali ke penginapan di kota juga tak memungkinkan karena budget penginapan yang bakalam membengkak. Akhirnya diputuskan untuk tidur di mana aja di sekitar stasiun menunggu jadwal keberangkatan esok harinya.

Ngemper-1
Menggelandang

Menggelandang, tidur di depan toko yang telah tutup dengan alas kardus dari sebuah swalayan yang buka 24 jam.
Karena kurang nyaman dengan keamaman, kami bergantian jaga hingga toko tersebut memulai aktivitas pagi sekitar pukul 5.30 waktu setempat.

Ngemper-2

Sebelum jam 6.30 kami sudah berada di depan loket untuk memastikan mendapatkan tiket untuk jadwal jam 08.30. Setengah jam menunggu, loket dibuka dan kami dibuat shock dengan kabar tiket pagi itu untuk kelas ekonomi habis dan menyisakan kelas bisnis yang harganya mencapai 2x lipat!

Petugas yang sepertinya sedang ngedrama coba memberikan solusi dengan meminta kami untuk menunggu info gerbong tambahan. Hampir sejam menunggu akhirnya tiket ekonomi pun tersedia. Berangkat..! 

Selalu ada yang pertama, ini pertama kali naik kereta lintas negara dan pertama kali menggelandang di negara orang. Sisi baiknya adalah setidaknya kami punya cerita dan pengalaman yang tak kalah serunya dibandingkan dengan cerita di tempat tujuan wisata. Ya, proses itu adalah perjalanan yang memberikan kesan menuju hasil akhir.
Salam ransel

15 comments:

  1. wuiih.. jian..tenanan ik.. le... turu.. beratapkan langit..hihihihi

    ReplyDelete
  2. duh kirain aku aja yang jadi gelandangan di negri orang :))

    ReplyDelete
  3. Benar, Mas. Kadang proses perjalanan yang berat itulah yang berkesan ketimbang tujuan akhirnya. Salam ransel.

    ReplyDelete
  4. salam ransel juga, jadi kepingin traveling lagi. Btw, untung ora udan ya. Nek udan bakalan super duper bingung

    ReplyDelete
    Replies
    1. nek udah pindah nang njero toko ")
      salam ransel

      Delete
  5. April 2015? Sepertinya typo deh, Mas :)

    ceritanya bikin senyum

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya typo, sudah diperbaiki *ngantuk
      thanks

      Delete
  6. Waaa... kok tidur diluar mas. di alam bebas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bersatu dengan alam...ceritanya :p

      Delete
    2. Awas lho, ntar masuk angin. Hihi

      Delete
  7. Eyaampuun, beneran tiduran di emperan :D

    ReplyDelete
  8. Keren bro....Oya enakan tidur dibandara :-D

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya..