08 June 2008

Inggris, Ironis

Bukan rahasia lagi sepakbola Inggris melalui English Premier League-nya mampu menyedot perhatian publik. Banyak pula yang mengakui EPL merupakan liga paling menarik di jagat sepakbola.

Prestasinya pun tak bisa dipandang sebelah mata, dua tahun terakhir klub-klub Inggris mampu menguasai Eropa -dalam hal ini Liga Champions- dengan meloloskan tiga wakilnya hingga ke babak semifinal. Bahkan musim ini klub Inggris menghadirkan all england final di partai puncak Liga Champion melalui Chelsea dan Manchester United. MU boleh berbangga dengan pemainnya yang menjadi top skor gol liga Champion melalui CR7.

Ya, klub liga Inggris memang sedang berjaya, namun prestasi klub-klub liga Inggris tak sebanding dengan tim nasional Inggris. Beberapa kali terseok di babak penyisihan Euro 2008, berada di ujung tanduk keberhasilan menembus Euro 2008, hingga akhirnya mencatatkan sejarah tidak masuk ke putaran final Euro 2008.

Ironis memang, tapi hal ini bukannya tanpa sebab. Perhatian terhadap pemain lokal terlihat kurang mendapat tempat di mata pelatih klub liga Inggris. Lihat saja Arenal yang hanya punya Justin Hoyte dan Theo Walcott sebagai pemain berdarah Inggris, sisanya merupakan pemain impor.

Manchester United dan Chelsea lebih beruntung, mereka punya Wayne Rooney, Rio Ferdinand, Michael Carrick, Owen Hargreaves. Di pihak Chelsea ada Frank Lampard, John Terry, Joe Cole, Shaun-Wright Pillips. Liverpool tak jauh beda, mereka punya Steven Gerrard, Peter Crouch dan Jammie Carragher.

Dengan jumlah pemain lokal yang menghuni klub big four tersebut, tentu terlihat timpang bila dibandingkan dengan jumlah pemain import. Inipun tak bisa disalahkan karena pihak klub akan melakukan langkah terbaiknya untuk mengangkat prestasi klub dengan mendatangkan pemain import. Langkah Manchester United pun bisa dijadikan contoh. MU punya akademi sepakbola yang mencari bibit-bibit muda yang diharapkan bisa melahirkan pemain profesional. Beberapa nama yang berasal dari akademi sepakbola MU –yang juga pemain timnas Inggris- sebut saja David Beckham, Philips Nevile, Gary Neville dan Paul Scholes. Dua nama terakhir bahkan masih memperkuat skuad Setan Merah.

Kekuatan timnas Inggris mulai melemah seiring dengan berkurangnya pemain lokal. Tentu saja, publik Inggris tak bisa bergantung kepada David Beckham, Gary Neville atau Paul Scholes yang kemampuanya mulai berkurang dimakan usia.

Euro 2008 tanpa Inggris, sebuah ironi sepakbola Inggris. Para pemain timnas Inggris pun hanya bisa menonton rekan setimnya berlaga di Euro 2008. Di tingkat klub memang mendominasi Eropa, tapi tim nasional mereka semakin merana, memble tak semegah stadion Wembley.

Baca Juga:



Klub Inggris Tambah Kaya Karena Euro.


Gerrad Dukung Kuota Demi Inggris.



(end)

12 comments:

  1. ah gw tetep cinta inggris ah....

    ReplyDelete
  2. iyahhh.. masa ga ada Inggris,, tapi yahh.. inilah hidup,, hehe..
    yang penting Portugal, Jerman, Prancis masih ada....

    hidup EURO!!

    yuk akh

    ReplyDelete
  3. namanya juga bola prie, bola kan bundar ada kalanya diatas dan ada kalanya di bawah kan..tapi iya si euro tanpa inggris hambar ya

    ReplyDelete
  4. bete bgt EURO tanpa Three Lion,,

    bagai sayur tanpa garam *hayah*

    hidup Inggris!aphied tetep cinta Inggris!!

    ReplyDelete
  5. Duh enaknya yg ngerti bola..
    Saya duduk manis saja ah disini mendengarkan.
    Go Euro 08!! Dan..salam kenal

    ReplyDelete
  6. sama gak ngerti bola.. saya cuma cukup kecewa kenapa ada euro 2008 sih... kan saya terganggu dengan efek dari para pecinta bola... *melirik ke swami...
    huh

    ReplyDelete
  7. Sudah menjadi resiko katika persepakbolaan modern dijadikan industri dan ajang bisnis, Dan EPL sekarang ini menjadi surga bagi pesepak bola dan pebisnis.DAn korbannya tentu para pemain lkal itu sendiri yang tidak mampu berkompetisi dengan para pemain import. Hasilnya timnas memble.

    ReplyDelete
  8. iya kasian ya tim nasional inggris ga lolos seleksi euro 2008 padahal q uda ngirim sms sebanyak2 banyaknya lho e.. tetep tereliminasi ( emang Afi )

    ReplyDelete
  9. bos itu q iksan yang koment terakhir

    ReplyDelete
  10. iya yah. aq malah gi nyadar.
    yah, namanya juga nasib nya udah digariskan begitu. mo gimana lagi?

    :D

    ReplyDelete
  11. Kenapa inggris bisa seperti itu? Tanya kenapa.

    Inilah efek bisnis di premier league yang terlalu money oriented. Siapa yang salah?

    Tenang Inggris masih teratas koq.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya..